Mengapa pocong begitu menakutkan ? Dalam agama Islam memocongkan jenasah adalah wajib hukumnya, merupakan syariat wajib untuk dijalankan apabila seseorang meninggal dunia dan akan dimakamkan. Namun fenomena kengerian akan pocong sebagai hantu seolah lebih menjadi prioritas dibanding dengan menyadarinya sebagai suatu hal yang lazim bahkan seharusnya menjadi alarm yang mengingatkan bahwa setiap manusia akan menemui ajalnya, dan dipocongkan. Agama mengajarkan kita untuk berempati pada si jenasah sekaligus mencambuk kita untuk mengisi sisa waktu yang ada dengan lebih baik sebelum maut menjemput. Innalillahi wa’ innalillahi roji’un.
Namun apa yang terjadi apabila kita mendengar kata pocong ? Ingatkah kita akan Sang Khalik ? Atau pada kiamat kecil yang akan kita alami ? Atau pada hari akhir ? Yang ada justru bergidik ngeri ! Membayangkan hantu dengan balutan putih melompat-lompat sangat menakutkan.
Celakanya, kepopuleran pocong sebagai hantu justru makin diekspos secara lebih bombastis di masa sekarang. Di saat kita telah berpikiran maju. Malah menggunakan media sebagai corong untuk menakut-nakuti masyarakat. Terlepas ada hantu “baik” laksana Casper yang tidak mengganggu dan gemar menolong, tapi tetap saja hantu. Untungnya Casper berparas lucu dan menggemaskan. Tapi pocong ? Hiii !Dalam Al-qur’an, Allah SWT telah menyebutkan bahwa tidak mungkin orang yang telah meninggal dunia hidup kembali. Tetapi nyaris semua film yang bertemakan hantu seakan memberikan pernyataan yang kontradiktif. Yakni arwah yang penasaran, arwah dengan misi membalas dendam ataupun orang jahat yang meninggal akan menjadi hantu. Dan masyarakat menyambutnya dengan antusias, apalagi jika ditambah dengan embel-embel “berdasarkan kisah nyata”. Tidak ada salahnya untuk menghargai sebuah mitos, namun yang harus dipikirkan adalah pertanggungjawaban atas moral dan visi yang menjadi dampak bagi para penontonnya. Jangankan penontonnya, anak-anak yang masuk dalam kategori film semua umur pun adalah pangsa yang seakan tidak dilihat sebagai kelas yang akan mendapati rangkaian media promosi dari film tersebut. Bayangkan betapa sulitnya memberi pengertian pada mereka bahwa pocong adalah bentuk dari syariat agama. Bahwa nenek kakeknya, orangtuanya, bahkan mereka sendiri pun berpotensi untuk menjadi pocong jika meninggal dunia kelak. Seringnya kata-kata yang menenangkan seperti “Itu bohongan kok, itu kan cuma film” Menjadi senjata ampuh para orang tua. Bagaimana dengan sikap patriotik Superman dan rekan-rekan superhero lainnya dalam memberantas kejahatan ? Tidak boleh dipercaya juga karena cuma film ? Jangan disalahkan apabila apresiasi penonton menjadi rendah terhadap film jika sedari kecil terpatri bahwa film adalah bohong-bohongan. Kesannya film dikerjakan hanya untuk menakut-nakuti, menghibur atau membodohi saja.
Pocong bukan hantu. Kata ini sebaiknya tidak lagi diungkapkan atau dipersepsikan sebagai sosok yang menakutkan di mata masyarakat. Namun justru dapat menambah suasana khusu’ dengan nilai-nilai religius yang seharusnya mewarnai setiap pemakaman dan menjadi janji setiap manusia agar siap untuk bertemu Sang Pencipta apabila suatu hari dirinya dikafani.